Meningkatkan Motivasi Anak untuk Sekolah

 

Sebelum kita bahas hal-hal apa saja yang dapat kita lakukan untuk memotivasi anak untuk sekolah, kita harus mengetahui apa itu motivasi. Motivasi adalah alasan kenapa sesorang berperilaku, berpikir, dan merasakan seperti yang mereka lakukan (Santrock, 2005). Maslow mendefinisikan motivasi sebagai sesuatu yang kompleks, yaitu perilaku sesorang muncul karena beberapa motif atau alasan. Maslow juga berasumsi bahwa seseorang secara terus menerus termotivasi oleh suatu kebutuhan (Feist & Feist, 2006). Definisi lain dari motivasi adalah suatu proses yang memeberi semangat, arah, dan kegigihan untuk melakukan sesuatu (Santrock, 2007). Allport percaya bahwa kebanyakan orang sadar atas apa yang sedang ia lakukan dan kenapa ia melakukan hal itu (Feist & Feist, 2006).

Terdapat dua jenis motivasi. Pertama adalah motivasi intrinsik yaitu, motivasi internal untuk melakukan sesuatu karena ia benar-benar ingin melakukan hal itu (Santrock, 2007). Motivasi ini lebih menekankan pada ketulusan individu untuk melakukan sesuatu. Contohnya, seorang anak yang rajin mengikuti pelajaran olahraga karena ia memang benar-benar menyukai atau menikmati materi pelajaran tersebut. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu hal untuk mendapatkan sesuatu (Santrock, 2007). Dengan kata lain, seseorang melakukan sesuatu karena ia menginginkan sesuatu dari apa yang telah ia lakukan, seperti reward, hadiah, perhatian, dll. Misalnya, seorang anak belajar karena ingin mendaptakan hadiah dari orang tua atau agar bisa bermain dengan temannya. Dari kedua motivasi tersebut, motivasi interinsik memang lebih baik karena secara umum akan berpengaruh positif kepada proses belajar. Namun lama kelamaan motivasi ekstrinsik bisa berubah menjadi motivasi interinsik bila indidvidu tersebut menemukan kecocokan atau kenyamanan dari suatu hal yang ia jalani tesebut.

Memotivasi Anak untuk Sekolah

Dengan mengetahui beberapa hal mengenai motivasi, kita dapat melakukan beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk memotivasi anak untuk sekolah. Berikut adalah hal-hal yang bisa menjadi pertimbangan orang tua, guru dan pengurus sekolah agar anak lebih termitivasi untuk sekolah. Bila semua anak memiliki motivasi tinggi untuk sekolah, mungkin akan meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.

  • Orang Tua

Orang tua mungkin bisa melakukan perspektif behavioral untuk memotivasi anak sekolah. Perspektif ini biasa digunakan dengan memberikan reinforcement (penguat) atau punishment (hukuman) kepada anak. Untuk meningkatkan perilaku yang dinginkan muncul, orang tua harus memberikan reinforcement kepada anak (Santrock, 2007). Reinforcement yang digunakan berupa reward seperti hadiah, pelukan, perhatian, perjalanan wisata dll. Untuk memotivasi anak agar rajin sekolah, orang tua dapat memberikan reinforcement setelah anak tersebut bisa berangkat sekolah selama sebulan tanpa bolos. Penggunaan reinforcement akan menjadi efektif bila reward yang diberikan kepada anak sesuai dengan keinginan atau hal-hal yang disenangi anak. Untuk itu, orang tua harus jeli dalam memilih reward yang efektif. Selain itu, orang tua juga harus mempehatikan waktu pemberian reward. Reinforcement harus diberikan segera setelah perilaku yang diinginkan muncul.

 

  • Guru

Selain orang tua, guru juga memiliki peranan penting dalam memotivasi anak sekolah. Penggunaan perspektif behavioural selain bisa digunakan orang tua, juga bisa diterapkan oleh guru dalam meningkatkan keinginan sisiwa untuk belajar dan sekolah lebih rajin lagi. Mungkin pemberian bonus poin nilai untuk anak yang mampu menghadiri kelas selama satu semester secara penuh tanpa absen, pemberian reward berupa pujian, hadiah kecil seperti coklat juga mampu meningkatkan motivasi anak untuk sekolah. Di samping menggunakan reinforcement, dalam perspektif behavioral juga menggunakan punishment. Namun dalam mendidik seorang anak, punishment merupakan hal yang sebisa mungkin harus dihindari. Karena selain dapat menimbulkan emosi negatif pada anak (Santrock, 2007), punishment juga kurang efektif untuk digunakan dalam memotivasi anak.

Selain itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam memotivasi anak. Anak akan menjadi rajin ke sekolah apabila guru yang menjadi pengganti orang tua di sekolah bisa membuat anak merasa senang, nyaman dan mendapatkan kasih sayang. Tugas utama guru memang mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi siswa. Namun dalam mendidik, guru juga harus memperhatikan kebutuhan peserta didiknya. Guru yang kurang memperhatikan kebutuhan siswanya akan mengakibatkan siswa tersebut kurang berminat untuk belajar dan sekolah. Dengan membuat suasana belajar dan metode mengajar yang menyenangkan, siswa akan berminat dan memungkinkan siswa termotivasi untuk belajar dan datang ke sekolah untuk mengukuti pelajaran. Hal tersebut menunjukkan salah satu contoh perspektif humanistik. Seperti konsep heararki kebutuhan Abraham Maslow yang mengatakan bahwa pemenuhan setiap kebutuhan harus sesuai dengan urutannya, yaitu physiological, safety, love and belongingness, esteem, dan self-actualization (Feist&Feist, 2006). Untuk meningkatkan motivasi anak untuk sekolah, guru sebagai sosok pengganti orang tua di sekolah harus membuat anak merasa nyaman dengan guru yang membimbingnya.

 

  • Pengurus Sekolah

 

Pengurus sekolah juga berperan dalam memotivasi anak. Pengurus sekolah dapat memotivasi anak dengan menyediakan fasilitas sekolah yang baik. Pengurus sekolah harus membuat ruang kelas bisa membuat anak nyaman berada di dalam kelas. Pengurus harus memperhatikan kebersihan, suhu ruangan dan komponen kelas. Tentu saja dengan ruang kelas yang sejuk, bersih dan rapih anak akan merasa nyaman berada di kelas dan mungkin akan semakin membuat anak bersemangat datang ke kelas. Dalam pemenuhan kenyamanan anak agar termotivasi untuk sekolah merupakan contoh lain dari penggunaan perspektif humanistik seperti yang bias dilakukan oleh guru.
Beberapa hal yang telah disebutkan di atas memang merupakan hal-hal yang bisa memotivasi anak secara ekstrinsik. Hal ini disebabkan karena untuk membuat individu melakukan suatu tindakan yang tidak disukai akan lebih mudah bila membuat individu tersebut termotivasi secara ekstrinsik. Namun, dengan berjalannya waktu motivasi intrinsik untuk sekolah dapat tumbuh dengan sendirinya dalam diri anak. Salain itu, orang tua, guru, dan pengurus sekolah diharapkan bisa bekerja sama dalam memotivasi anak karena anak akan semakin termotivasi bila seluruh lingkungan di sekitarnya mendukung.

sumber:http://kidz-station.blogspot.co.id/

 

Cinta Dalam Islam. Adakah Kaum Muda Memahami?

Cinta Dalam Islam. Andakah anda semua faham apa itu cinta di dalam islam?

Bercinta dan perasaan cinta mungkin sesuatu yang sukar dielakkan pada zaman ini. Dengan kemudahan teknologi perhubungan, hampir mustahil pemuda dizaman ini tidak bercinta, walaupun sekurang – kurangnya hanya dengan ber-sms.

Kali ini tajuk yang ingin dibincangkan adalah mengenai cinta di dalam Islam. Adakah kita, kaum muda memahami cinta yang dianjurkan di dalam Islam?

Cinta Dalam Islam

Cinta harus diungkapkan dengan baik dan benar sesuai dengan ukurannya. Jika tidak, boleh merosakan.

Aturan cinta dan kasih sayang ini perlu dipelihara, sehingga boleh terpelihara dan keindahannya selalu terjaga serta menjadi benteng yang kukuh.

Contohnya, lihat pada pasangan suami-isteri. Cinta dan kasih sayang boleh menjadi benteng yang sangat kuat untuk menghadapi cubaan dan ujian dari Allah.

Bila kita mampu menjaga kehadiran rasa sayang dan cinta, kita akan memiliki perlindungan yang terbaik untuk menghadapi tentangan besar dan badai kehidupan.

Namun, seringkali manusia tidak mengetahui hikmah yang tersembunyi di balik sebuah cubaan dan ujian. Lebih lagi apabila seorang manusia telah menggunakan egonya.

Biasanya mereka akan kalah dan cenderung mempesoalkan tentang ujian dan cubaan yang menimpanya.

Contohnya ketika seseorang meluahkan perasaannya kepada orang yang disukainya. Kemudian mereka yakin bahawa hubungan mereka akan berjaya ke jinjang pelamin.

Namun, mereka putus di tengah jalan.

Fenomena ini biasa terjadi dalam masyarakat, tetapi kita seringkali sukar menghadapinya. Bila tidak berhati-hati, boleh menyebabkan kekecewaan dan mempengaruhi hingga ke sendi-sendi kehidupan seseorang.

Sering kalahnya manusia dalam ujian percintaan merupakan kes yang biasa mendera kaum muda.

Padahal, generasi muda sangat diharapkan oleh masyarakat sebagai agen perubahan. Sangat sayang apabila mereka  hilang dalam perjuangan zaman, hanya kerana urusan cinta dan kasih sayang.

Kegagalan menjaga rasa cinta. Mereka hanya tidak mampu menguruskan fitrah yang sangat mendasar ketika menghadapi ujian kehidupan.

Ketika kaum muda putus cinta, seolah-olah putus segala harapan untuk  mendapatkan kasih sayang dari jantina berlawanan. Padahal tidak. Kesempatan mereka untuk mendapatkan kasih sayang dalam koridor yang sebenar masih terbuka lebar.

Meskipun begitu, sebaiknya kita mengharapkan cinta dan kasih sayang dari Allah. Cinta dan kasih sayang tertinggi dan terbaik dibandingkan cinta dan kasih sayang dari manapun.

Kita  seharusnya selalu berprasangka positif terhadap Allah. Sehingga mampu menjadikan kita menerima kenyataan apabila ungkapan cinta dan kasih sayang terhadap sesama kita terputus di tengah jalan.

Kita juga jangan sampai kehilangan pegangan hidup, iaitu Islam. Bagaimana pun, sesuatu yang kita peroleh adalah hasil terbaik yang diberikan Allah.

Meskipun pada awalnya kita tidak memahami dan merasa sakit, tetapi apabila kita percaya bahawa hal tersebut merupakan yang terbaik, kita akan ikhlas menerimanya.

Bagaimana memelihara dan mengelola perasaan cinta dan kasih sayang yang baik terhadap pasangan?

Biasanya, sebelum berumah tangga, para pemuda & pemudi selalu mendesak dan seakan terdesak untuk segera menikah. Tetapi, setelah berumah tangga, akan terasa hambar kerana semuanya sudah diketahui dan terbuka.

Impian yang pernah dicita-citakan sebelum bernikah dahulu, seringkali kandas dalam pertikaian, kekerasan dalam rumah tangga, dan penceraian.

Dalam hal ini, ada kegagalan dalam menjaga cinta dan kasih sayang.

Bagaimana Rasulullah mengajar cinta dalam Islam?

Rasul sendiri selalu memberikan kehangatan kepada isteri-isterinya, terutama Aisyah. Beliau selalu bermain serta memuji Aisyah. Sederhana dan mudah dipraktikkan untuk memelihara kehangatan.

Contohnya dengan mengamalkan untuk mencium isteri 3 kali dalam sehari. Tidak perlu sembunyi-sembunyi. Kalau boleh, dihadapan anak-anak agar mereka boleh melihat ibubapanya yang bahagia.

Rasul juga selalu mencontohkan untuk menyampaikan kata-kata yang baik kepada isteri setiap hari seperti, Kamu cantik sekali hari ini.

Rasul mencontohkannya dengan selalu memanggil Aisyah dengan jolokan si “pipi merah”.

Ekspresi seperti ini, walaupun nampak mengada-ngada, tetapi ia merupakan doa yang terungkap dari dalam hati.

Tidak perlu membelikan alat-alat kecantikan yang mahal agar isteri menjadi semakin cantik dari hari ke hari. Cukup dengan memujinya setiap hari, maka isteri akan kelihatan lebih cantik, meskipun semakin tua dari hari ke hari.

Kerana kecantikan isteri ada di dalam hatinya.

Amalan baik ini akan selalu dilihat oleh Allah. Allah berjanji apabila ada hambanya yang melakukan kebaikan dengan berusaha memelihara kasih sayang dan menjaga cinta sebagai seorang suami kerana Allah, Allah akan semakin mendekatinya.

Bila hambanya mendekati dengan berjalan, Allah akan menjemputnya dengan berlari. Janji ini sepatutnya dijadikan motivasi bagi kita untuk selalu menjaga keluarga kita sebaik-baiknya.

“jangan menghabiskan cinta dan kasih sayang pada masa sebelum menikah.Masih ada perjalanan panjang dalam rumah tangga nanti”.

sumber:http://akuislam.com/blog/renungan/cinta-dalam-islam/